Minggu, 03 Juni 2012

Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan .


Penetapan Permenneg PAN dan RB Nomor  16  tahun 2009  tentang   Jabatan   Fungsional   Guru dan Angka Kreditnya, dilatarbelakangi bahwa guru memiliki peran strategis dalam meningkatkan proses pembelajaran dan mutu peserta didik. Perubahan mendasar yang terkandung dalam Permenneg PAN dan   RB  Nomor   16   tahun   2009   dibandingkan   dengan   regulasi   sebelumnya,   di   antaranya   dalam   hal penilaian    kinerja   guru   yang   sebelumnya lebih  bersifat administratif menjadi lebih  berorientasi praktis,   kuantitatif,   dan   kualitatif,   sehingga   diharapkan   para   guru   akan   lebih   bersemangat   untuk meningkatkan kinerja dan profesionalitasnya. Dalam Permenneg PAN dan RB ini, jabatan fungsional terdiri dari empat jenjang, yaitu Guru Pertama, Guru Muda, Guru Madya, dan Guru Utama.
Setiap   tahun,   guru   harus dinilai   kinerjanya   secara teratur  melalui Penilaian   Kinerja   Guru   (PK   Guru) dan wajib   mengikuti Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan     (PKB).   PKB    tersebut    harus dilaksanakan sejak guru memiliki golongan kepangkatan III/a dengan melakukan pengembangan diri, dan sejak golongan kepangkatan III/b guru wajib melakukan publikasi ilmiah dan/atau karya inovatif. Untuk naik dari golongan kepangkatan IV/c ke IV/d guru wajib melakukan presentasi ilmiah.
                 PKB    dikembangkan  atas  dasar   profil  kinerja  guru   sebagai    perwujudan      hasil  PK  Guru   dan didukung dengan hasil  evaluasi   diri.  Apabila   hasil  PK   Guru    masih   berada    di  bawah standar kompetensi yang ditetapkan atau berkinerja rendah, maka guru diwajibkan untuk mengikuti program PKB yang diorientasikan sebagai pembinaan untuk mencapai kompetensi standar yang disyaratkan. Sementara  itu,  guru   yang   hasil  penilaian   kinerjanya    telah  mencapai     standar kompetensi  yang disyaratkan, maka kegiatan PKB diarahkan kepada pengembangan kompetensi agar dapat memenuhi tuntutan masa depan dalam pelaksanaan tugas dan kewajibannya sesuai dengan kebutuhan sekolah dalam rangka memberikan layanan pembelajaran yang berkualitas kepada peserta didik.
                Dalam  Permenneg   PAN   dan   RB  Nomor   16   Tahun   2009,   PKB diakui   sebagai   salah   satu unsur utama yang diberikan angka kredit untuk pengembangan karir guru dan kenaikan pangkat/jabatan fungsional guru, selain kegiatan pembelajaran/pembimbingan dan tugas tambahan lain yang relevan dengan fungsi   sekolah/madrasah. Kegiatan PKB diharapkan  dapat    menciptakan       guru  yang profesional,   yang   bukan   hanya sekadar  memiliki   ilmu   pengetahuan   yang   luas,   tetapi juga   memiliki kepribadian   yang   matang.   Dengan   kepribadian   yang   prima   dan   penguasaan  IPTEK yang   kuat,   guru diharapkan   terampil   dalam   menumbuhkembangkan   minat   dan   bakat   peserta   didik   sesuai   dengan bidangnya.
                  Secara umum, keberadaan PKB bertujuan untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan di sekolah/madrasah  yang   berimbas   pada  peningkatan  mutu   pendidikan.   Secara   khusus,  tujuan   PKB disajikan berikut ini.

1.    Meningkatkan kompetensi guru untuk mencapai standar kompetensi yang ditetapkan.
2.    Memutakhirkan kompetensi guru untuk memenuhi kebutuhan guru dalam memfasilitasi proses belajar   peserta   didik   dalam  memenuhi   tuntutan   perkembangan   ilmu,   teknologi,   dan   seni   di  masa mendatang.
3.    Mewujudkan guru  yang   memiliki  komitmen kuat  melaksanakan     tugas   pokok   dan  fungsinya sebagai tenaga profesional.
4.    Menumbuhkan rasa cinta dan bangga sebagai penyandang profesi guru.
5.    Meningkatkan citra, harkat, dan martabat profesi guru di masyarakat.
       Manfaat PKB bagi peserta didik yaitu memperoleh jaminan kepastian mendapatkan pelayanan dan    pengalaman belajar  yang  efektif untuk  meningkatkan   potensi  diri  secara  optimal, sehingga mereka  memiliki   kepribadian  kuat  dan  berbudi  pekerti   luhur   untuk   berperan aktif  dalam pengembangan  iImu   pengetahuan,  teknologi  dan  seni  sesuai   dengan   perkembangan   masyarakat. Bagi   guru  hal  ini dapat  mengembangkan  ilmu  pengetahuan,  teknologi, dan   seni serta  memiliki kepribadian  yang   kuat  sesuai   dengan   profesinya;    sehingga   selama   karirnya mampu     menghadapi perubahan   internal   dan   eksternal  dalam  memenuhi   kebutuhan   belajar   peserta   didik   menghadapi kehidupan di masa datang.
       Dengan PKB   untuk   guru,   bagi   sekolah/madrasah     diharapkan     mampu      menjadi   sebuah organisasi    pembelajaran     yang  efektif;  sehingga   sekolah/madrasah      dapat   menjadi   wadah    untuk peningkatan kompetensi, dedikasi, dan komitmen guru dalam memberikan layanan pendidikan yang berkualitas  kepada  peserta   didik.   Bagi   orang   tua/masyarakat,   PKB   untuk   guru   bermakna  memiliki jaminan   bahwa  anak   mereka  di  sekolah   akan  memperoleh      layanan  pendidikan   yang    berkualitas sesuai  kebutuhan dan kemampuan masing-masing.  Bagi pemerintah,PKB untuk guru dimungkinkan dapat   memetakan  kualitas  layanan pendidikan  sebagai    dasar    untuk   menyusun    dan   menetapkan kebijakan   pembinaan dan pengembangan profesi guru dalam menunjang pembangunan pendidikan; sehingga     pemerintah     dapat   mewujudkan     masyarakat      Indonesia    yang   cerdas,  kompetitif    dan berkepribadian luhur.
       PKB adalah bentuk pembelajaran berkelanjutan untuk memelihara dan meningkatkan standar kompetensi  secara keseluruhan,  mencakup bidang-bidang   yang  berkaitan   dengan    profesi guru. Dengan demikian, guru  secara   profesional   dapat   memelihara,    meningkatkan, dan   memperluas pengetahuan dan  keterampilannya untuk    melaksanakan  proses   pembelajaran    yang    bermutu. Pembelajaran yang  bermutu  diharapkan  mampu meningkatkan  pengetahuan, keterampilan,    dan pemahaman peserta didik.
       PKB   mencakup  kegiatan-kegiatan yang didesain    untuk    meningkatkan      pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan guru.  Kegiatan dalam PKB membentuk suatu siklus yang mencakup perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan refleksi. Melalui siklus kegiatan pengembangan keprofesian guru secara berkelanjutan, diharapkan guru akan    mampu     mempercepat    pengembangan       pengetahuan     dan   keterampilan    untuk   peningkatan karirnya.
        Kegiatan   PKB   untuk   pengembangan   diri   dapat   dilakukan   di   sekolah,   baik   oleh   guru   secara mandiri, maupun oleh guru bekerja sama dengan guru lain dalam satu sekolah. Kegiatan PKB melalui jaringan    sekolah    dapat   dilakukan     dalam    satu   rayon (gugus),   antarrayon     dalam    kabupaten/kota tertentu, antarprovinsi, bahkan dimungkinkan melalui jaringan kerjasama sekolah antarnegara serta kerjasama sekolah dan industri, baik secara langsung maupun melalui teknologi informasi. Kegiatan
PKB melalui jaringan antara lain dapat berupa: kegiatan KKG/MGMP; pelatihan/seminar/lokakarya; kunjungan   ke   sekolah   lain,   dunia   usaha,   industri,  dan   sebagainya;   mengundang   nara   sumber   dari sekolah   lain,   komite   sekolah,   dinas   pendidikan,   pengawas,   asosiasi   profesi,   atau   dari   instansi   lain yang relevan.
        Jika kegiatan PKB di sekolah dan jaringan sekolah belum memenuhi kebutuhan pengembangan keprofesian   guru,   atau   guru   masih   membutuhkan   pengembangan   lebih   lanjut,   kegiatan  ini  dapat dilaksanakan dengan menggunakan sumber kepakaran luar lainnya. Sumber kepakaran lain ini dapat disediakan  melalui   LPMP,    P4TK,    Perguruan     Tinggi  atau   institusi  layanan    lain  yang    diakui   oleh pemerintah,   atau   institusi   layanan   luar   negeri   melalui   pendidikan   dan   pelatihan   jarak   jauh   dengan memanfaatkan jejaring virtual atau TIK.
        Dalam kaitannya dengan PKB ini, beberapa jenis pengembangan kompetensi dapat dilakukan oleh guru dan  di sekolah mereka sendiri. Beberapa program dimaksud disajikan berikut ini.
1.    Dilakukan oleh guru sendiri:
      a.  menganalisis umpan balik yang diperoleh dari siswa terhadap pelajarannya;
      b.  menganalisis hasil pembelajaran (nilai ujian, keterampilan siswa, dll);
      c.  mengamati dan menganalisis tanggapan siswa terhadap kegiatan pembelajaran;
      d.  membaca artikel dan buku yang berkaitan dengan bidang dan profesi; dan
      e.  mengikuti kursus atau pelatihan ja rak jauh.
2.    Dilakukan oleh guru bekerja sama dengan guru lain:
      a.  mengobservasi guru lain;
      b.  mengajak guru lain untuk mengobservasi guru yang sedang mengajar;
      c.  mengajar besama-sama dengan guru lain (pola team teaching);
      d.  bersamaan  dengan guru  lain membahas dan  melakukan  investigasi terhadap  permasalahan  yang dihadapi di sekolah;
     e.  membahas artikel atau buku dengan guru lain; dan
     f.  merancang persiapan mengajar bersama guru lain.
3.   Dilakukan oleh sekolah :
     a.  training  day  untuk  semua  sumber  daya  manusia  di  sekolah  (bukan  hanya guru);
     b.  kunjungan ke sekolah lain; dan
     c.  mengundang nara sumber dari sekolah lain atau dari instansi lain.
         Satu hal  yang   perlu  diingat   dalam   pelaksanaan   pengembangan keprofesian   berkelanjutan harus dapat mematuhi prinsip-prinsip seperti berikut ini.
1.  Setiap guru di Indonesia berhak mendapat kesempatan untuk mengembangkan diri. Hak tersebut  perlu diimplementasikan secara teratur, sistematis, dan berkelanjutan.
2.  Untuk   menghindari kemungkinan pengalokasian  kesempatan pengembangan yang tidak merata, proses   penyusunan program PKB  harus   dimulai  dari  sekolah.   Sekolah  wajib   menyediakan  kesempatan  kepada  setiap  guru  untuk  mengikuti program  PKB minimal selama tujuh  hari atau   40  jam   per  tahun.   Alokasi tujuh   hari tersebut   adalah   alokasi  minimal.   Dinas  Pendidikan  Kabupaten/Kota     dan/   atau  sekolah  berhak   menambah      alokasi  waktu   ji ka dirasakan  perlu,     termasuk penyediaan anggaran untuk kegiatan PKB.

3.  Guru    juga   wajib   berusaha    mengembangkan       dirinya   semaksimal     mungkin    dan    secara  berkelanjutan. Alokasi waktu tujuh hari per tahun sebenarnya tidak  cukup, sehingga guru harus tetap berusaha pada  kesempatan lain di luar waktu tujuh hari tersebut.  Keseriusan guru untuk  mengembangkan dirinya  merupakan    salah  satu  hal yang   diperhatikan   dan  dinilai  di  dalam  kegiatan proses pembelajaran yang akan dievaluasi kinerja tahunannya.
4.  Proses    PKB   bagi  guru   harus   dimulai    dari  guru   sendiri.   Sebenarnya   guru   tidak   bisa dikembangkan’   oleh   orang    lain  jika  dia  belum  siap  untuk  berkembang.    Pihak-pihak   yang mendapat  tugas   untuk   membina   guru   perlu   menggali   sebanyak-banyaknya  dari   guru  tersebut  (tentang   keinginannya,  kekhawatirannya,    masalah  yang    dihadapinya,  pemahamannya  tentang  proses  belajar-mengajar,  dsb)  sebelum  memberikan masukan/saran.
5.  Untuk  mencapai tujuan  PKB yang  sebenarnya,  kegiatan  PKB harus  melibatkan guru secara aktif  sehingga     betul-betul  terjadi   perubahan    pada    dirinya,  baik  dalam   penguasaan     materi, pemahaman  konteks,  keterampilan,   dan  lain-lain.   Jenis   pelatihan  tradisional  --  yaitu   ceramah  yang dihadiri oleh peserta dalam jumlah besar tetapi tidak melibatkan mereka secara aktif -- perlu  dihindari.
       Berdasarkan analisis kebutuhan dan  ketentuan yang berlaku serta praktik-praktik pelaksanaannya, perlu dikembangkan mekanisme PKB yang diharapkan dapat memenuhi  kebutuhan guru untuk meningkatkan profesionalismenya. Analisis  kebutuhan dan ketentuan tersebut mencakup antara lain:
1.  Setiap guru  berhak menerima pembinaan berkelanjutan dari seorang guru yang  berpengalaman dan telah mencapai standar kompetensi yang telah ditetapkan (guru pendamping).
2.  Guru pendamping tersebut  berasal dari sekolah yang sama dengan guru binaannya  atau  dipilih  dari  sekolah  lain yang   berdekatan,   apabila  di sekolahnya   tidak  ada  guru  pendamping  yang memenuhi kompetensi.
3.   Setiap  sekolah   mempunyai   seorang  koordinator   PKB  tingkat   sekolah,  yaitu   seorang   guru  yang berpengalaman. Sekolah yang mempunyai banyak guru boleh membentuk sebuah tim  PKB untuk   membantu      Koordinator     PKB,   sedangkan    sekolah    kecil dengan     jumlah   guru   yang    terbatas,   terutama sekolah dasar, sangat dianjurkan untuk bekerja sama dengan sekolah lain di sekitarnya.
     Dengan  demikian,  seorang  Koordinator  PKB  bisa  mengkoordinasikan  kegiatan PKB di beberapa  sekolah.
4.   Setiap  Dinas  Pendidikan  Kabupaten/Kota  menunjuk  dan  menetapkan  seorang  Koordinator PKB tingkat  kabupaten/kota  (misalnya    pengawas    yang    bertanggung      jawab  untuk    gugus   sekolah  tertentu).
5.   Sekolah, KKG/MGMP serta Dinas Pendidikan  Kabupaten/Kota harus merencanakan kegiatan PKB dan   mengalokasikan   anggaran   untuk  kegiatan tersebut.  Kegiatan   PKB   harus   sejalan   dengan visi  dan misi sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan.
6.   Sekolah berkewajiban menjamin bahwa kesibukan guru dengan tugas tambahannya sebagai Guru Pembina atau sebagai  Koordinator PKB  tingkat sekolah maupun dalam mengikuti  kegiatan PKB   tidak mengurangi kualitas pembelajaran siswa.
       PKB perlu dilaksanakan  sesuai   dengan    kebutuhan     untuk    mencapai     standar   kompetensi dan/atau   meningkatkan   kompetensinya   agar  guru  mampu   memberikan   layanan   pendidikan   secara profesional.   Pencapaian   dan   peningkatan   kompetensi   tersebut  akan  berdampak   pada  peningkatan keprofesian  guru  dan  berimplikasi  pada   perolehan angka kredit bagi  pengembangan karir  guru. Dalam Permenneg PAN dan RB Nomor 16 tahun 2009, terdapat tiga unsur kegiatan guru dalam  PKB yang dapat dinilai angka kreditnya, yaitu: pengembangan diri, publikasi ilmiah, dan karya inovatif.
1.    Pengembangan Diri
      Pengembangan  diri  pada  dasarnya   merupakan     upaya   untuk   meningkatkan      kemampuan       dan  keterampilan guru melalui kegiatan pendidikan dan latihan fungsional dan kegiatan kolektif guru yang dapat meningkatkan kompetensi dan/atau keprofesian guru. Dengan demikian, guru akan   mampu melaksanakan tugas utama dan tugas tambahan yang dipercayakan kepadanya. Tugas  utama    guru   adalah   mendidik,    mengajar,    membimbing,      mengarahkan,      melatih,   menilai,   dan    mengevaluasi      peserta   didik  pada    berbagai   jenis  dan   jenjang   pendidikan,    sedangkan     tugas   tambahan adalah tugas lain guru yang relevan dengan fungsi sekolah/madrasah, seperti tugas   sebagai kepala sekolah, wakil kepala sekolah, kepala laboratorium, dan kepala perpustakaan.
             Diklat   fungsional   termasuk  pada   kategori   diklat   dalam   jabatan   yang   dilaksanakan   untuk mencapai  persyaratan    kompetensi     yang   sesuai  dengan    jenis  dan  jenjang   jabatan   fungsional  masing-masing. Dalam Permendiknas Nomor 35 Tahun 2010 dinyatakan bahwa diklat fungsional  adalah    kegiatan    guru   dalam    mengikuti    pendidikan    atau   pelatihan    yang   bertujuan    untuk  meningkatkan keprofesian guru yang bersangkutan dalam kurun waktu tertentu.
             Kegiatan     kolektif  guru  adalah   kegiatan   guru   dalam   mengikuti    pertemuan     ilmiah   atau mengikuti kegiatan bersama yang dilakukan guru,  baik di sekolah maupun di luar sekolah,  dan bertujuan   untuk   meningkatkan   keprofesian   guru   yang   bersangkutan.   Beberapa  contoh   bentuk kegiatan    kolektif  guru   antara   lain:  (1)  lokakarya   atau   kegiatan   bersama     untuk   menyusun  dan/atau     mengembangkan  perangkat     kurikulum,   pembelajaran,      penilaian,  dan / atau  media   pembelajaran; (2) keikutsertaan pada kegiatan ilmiah (seminar, koloqium, workshop, bimbingan teknis, dan diskusi panel), baik sebagai pembahas maupun peserta; (3) kegiata n kolektif lainnya yang sesuai dengan tugas dan kewajiban guru.
              Beberapa contoh materi yang dapat dikembangkan dalam kegiatan pengembangan diri, baik   dalam   diklat   fungsional   maupun   kegiatan   kolektif   guru,   antara   lain:   (1)   penyusunan   RPP,  program kerja, dan/atau perencanaan pendidikan; (2) penyusunan kurikulum dan bahan ajar; (3) pengembangan metodologi mengajar; (4) penilaian proses dan hasil pembelajaran peserta didik;
 (5)   penggunaan  dan  pengembangan teknologi    informatika     dan    komputer      (TIK)   dalam  pembelajaran; (6) inovasi proses pembelajaran; (7) peningkatan kompetensi profesional dalam menghadapi tuntutan teori  terkini;  (8)  penulisan   publikasi   ilmiah;   (9)  pengembangan       karya  inovatif;    (10)   kemampuan untuk mempresentasikan hasil  karya;    dan   (11)   peningkatan kompetensi   lain   yang   terkait   dengan   pelaksanaan   tugas-tugas   tambahan   atau   tugas   lain   yang relevan dengan fungsi sekolah/madrasah.
              Pelaksanaan berbagai kegiatan pengembangan diri ini harus berkualitas, dikoordinasikan  dan    dikendalikan  oleh  Koordinator  PKB  di   sekolah    secara    sistematik    dan   terarah    sesuai  kebutuhan. Kegiatan pengembangan diri yang berupa diklat fungsional harus dibuktikan dengan   surat tugas, sertifikat, dan laporan deskripsi hasil pelatihan yang disahkan oleh kepala sekolah.
      Sementara itu, kegiatan pengembangan diri yang berupa kegiatan kolektif guru harus dibuktikan dengan surat keterangan dan laporan per kegiatan yang disahkan oleh kepala sekolah. Jika guru mendapat tugas tambahan sebagai kepala sekolah, laporan dan bukti fisik pendukung tersebut   harus disahkan oleh kepala dinas pendidikan Kabupaten/Kota/Provinsi.
              Hasil diklat fungsional dan kegiatan kolektif guru ini perlu didesiminasikan kepada guru-  guru   yang   lain,   minimal   di   sekolahnya   masing-masing,   sebagai   bentuk   kepedulian   dan   wujud  kontribusi dalam peningkatan kualitas pendidikan. Kegiatan ini diharapkan dapat mempercepat   proses peningkatan  dan   pengembangan  sekolah    secara    utuh / menyeluruh.   Guru    bisa   memperoleh penghargaan  berupa     angka     kredit    tambahan       sesuai    perannya      sebagai  pemrasaran/nara sumber.
2.    Publikasi Ilmiah
      Publikasi ilmiah adalah karya tulis ilmiah yang telah dipublikasikan kepada masyarakat sebagai bentuk     kontribusi   guru   terhadap    peningkatan kualitas  proses   pembelajaran      di  sekolah   dan   pengembangan   dunia   pendidikan   secara   umum.   Publikasi   ilmiah  mencakup 3   (tiga)   kelompok,  yaitu:
      a.   Presentasi pada forum ilmiah. Dalam hal ini guru bertindak sebagai pemrasaran dan/atau   nara     sumber    pada    seminar,    lokakarya,    koloqium,    dan/atau     diskusi   ilmiah,   baik  yang  diselenggarakan  pada    tingkat  sekolah,    KKG/MGMP,       kabupaten/kota,      provinsi,   nasional, maupun internasional.
     b.   Publikasi  ilmiah  berupa    hasil  penelitian    atau   gagasan    ilmu   bidang    pendidikan    formal.  Publikasi  dapat   berupa    karya   tulis  hasil  penelitian,  makalah     tinjauan   ilmiah   di  bidang pendidikan  formal dan  pembelajaran,      tulisan   ilmiah  populer,    dan   artikel  ilmiah   dalam bidang   pendidikan. Karya   ilmiah   ini   telah   diterbitkan   dalam   jurnal   ilmiah   tertentu   atau  minimal     telah   diterbitkan   dan   diseminarkan      di  sekolah   masing-masing.      Dokumen      karya  ilmiah disahkan oleh kepala sekolah dan disimpan di perpustakaan sekolah. Bagi guru yang  mendapat   tugas   tambahan   sebagai   kepala   sekolah,   karya   ilmiahnya   harus   disahkan   oleh   kepala dinas pendidikan setempat.
      c.    Publikasi    buku   teks   pelajaran,   buku    pengayaan,     dan/atau     pedoman      guru.   Buku   yang  dimaksud dapat berupa buku pelajaran, baik sebagai buku utama maupun buku pelengkap,  modul/diktat pembelajaran per semester, buku  dalam   bidang    pendidikan,     karya   terjemahan,   dan   buku   pedoman   guru.   Buku   termaksud   harus   tersedia   di   perpustakaan      sekolah     tempat     guru   bertugas.    Keaslian    buku   harus    ditunjukkan     dengan    pernyataan       keaslian dari kepala sekolah atau dinas pendidikan setempat bagi guru yang mendapatkan    tugas tambahan sebagai kepala sekolah.
3.    Karya Inovatif
      Karya inovatif   adalah   karya   yang   bersifat   pengembangan,  modifikasi   atau   penemuan      baru sebagai bentuk  kontribusi guru terhadap peningkatan kualitas proses pembelajaran di sekolah  dan pengembangan dunia pendidikan, sains/teknologi, dan seni. Karya inovatif ini dapat berupa  penemuan  teknologi    tepat   guna,    penemuan/peciptaan   atau   pengembangan         karya   seni,     pembuatan/modifikasi   alat   pelajaran/peraga/praktikum,   atau   penyusunan   standar,   pedoman,     soal dan sejenisnya pada tingkat nasional maupun provinsi.
             Kegiatan     PKB    yang   mencakup      ketiga   komponen      tersebut    harus   dilaksanakan     secara berkelanjutan, agar  guru   dapat   selalu   menjaga   dan   meningkatkan   profesionalismenya,   tidak sekadar  untuk   pemenuhan   angka   kredit.   Oleh   sebab  itu,   meskipun   angka   kredit   seorang   guru  diasumsikan      telah   memenuhi      persyaratan     untuk   kenaikan     pangkat    dan   jabatan    fungsional   tertentu, guru tetap wajib melakukan kegiatan PKB
.
 sumber :  BAHAN  AJAR  PLPG   KEBIJAKAN    PENGEMBANGAN PROFESI GURU
Materi   Pendidikan dan Latihan Profesi Guru  Tahun 2012
Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan   dan Penjaminan Mutu Pendidikan   Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2012

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar